Minggu, 02 Desember 2012

Konseing Islam


DASAR DAN TEORI KONSELING ISLAM
(Oleh : Mukhlas)
A.        Dasar Normatik Konseling Islam
Yang dimaksud dengan dasar normatik atau landasan teori konseling islam adalah, landasan berpijak yang benar tentng bagaimana proses konseling itu dpat berlangsung baik dan menghasilkan perubahan-perubahan positif pada klien. Seperti mengenai cara dan paradigma berfikir, cara menggunakan potensi hati nurani, cara berperasaan, cara berkeyakinan dan bertingkahlaku berdasrkan wahyu ilahi dan paradigma kenabian, yaitu (al-Qur’an dan al-Hadis).[1] Adapun landasan teori yang dimaksud adalah:
1.        Berdasarkan al-Qur’an
Surah an-Nahl ayat 125.


Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan tuhan-mu degan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentan siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (an-Nahl: 125)
Ayat diatas menjelaskan tentang teori dalam menasihati, menganjurkan, membimbing, mengarahkan, mendidik, (mengajar)  untuk menuju kearah perbaikan, perubahan dan pengembangan yang lebih positif dan membahagiakan. Teori-teori yang dimaksud adalah sebagai berikut:
A.    Teori “Al-Hikmah”
Kata “Al-Hikmah” dalam perspektif bahasa mengandung makna: (a). Ucapan yang sesui dengan kebenaran, filsafat, perkara yang benar dan lurus, keadilan, pengetahuan dan lapang dada.[2] (b). Kata “Al-Hikmah” dengan bentuk jamakny “Al-Hikam” bermakna, kebijaksanaan,  ilmu pengetahuan, filsafat kenabian, keadilan, pepatah dan al-Qur’an al-Karim.[3] Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan batil.[4]
Secara istilah Al-Hikmah bisa diartikan sebagai suatu pedoman, penuntun dan pembimbing untuk memberi bantuan kepada individu yng sangat membutuhkan pertolongan dalam mendidik dan mengembangkan eksistensi dirinya, hingga ia dapat menemukan jati diri dan citra dirinya serta dapat menyelesaikan atau berbagai ujian hidup secara  mandiri.
Apaila seseorang ingin mengetahui suatu yang terdiri dari berbagai macam pendapat dan ingin mendapatkan makna yang dimaksud oleh Allah SWT, serta dipahami oleh RasulSAW, maka ia harus mengembalikannya kepada al-Qur’an dan hadis. Sebagaimana Firmannya:


Artinya: hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasl (Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian ika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, mka kembalikanlah ia kepada allah Al-Qur-an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar berimn kepada allah dan hari kemudian. Yang dmikian itu lebih utama (bagimu) dan Lebih baik akibatnya. (QR. 4. 59).
Proses aplikasi konseling dengan teori ini semata-mata dapat dilakukan oleh konselor dengan pertolongn Allah secara langsung atau melalui utusan-Nya, yaitu Allah mengutuskan malaikat-Nya, dimana di hadir dalam jiw konselor atas izin-Nya.[5] Hal yang sesuai dngan firmam Allah SWT:


Artinya: Allah menganugerahkan Al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendak-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benr-benar telah dianugerahi hikmah, ia benarbenar telah dinugerahi arunia yang banyak. Dan hanya orag-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QR: 2: 269)
Teori “Al-Hikmah” tidak dilakukan oleh konselor yang tidak taat, tidak dkat dengan Allah dan utusan-nya. Karena teori ini merupakan teori konsling yang dilakukan olh para Raul, para Nabi, dan para sahabat, untukmenyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh umat. Adapun yang menjadi ciri dariteori ini adalah:
a.  Adanya pertolongan Allah secara langsung melalui utusan-nya.
b. Adannya ketauladanan dan keshalehan konselor.
Dengan kata lain, dasar atau teori hikmah dalam konsling dapat diartikan sebagai memberikan nasihat (ajaran agama) daam bahasa, akhlaq, teladan yang baik, motivasi, taktik, pengalaman, dengan mengembangkan unsur pendidikan.
B.     Teori “al-Mau’izhah al-Hasanah”
Yaitu teori konseling dengan cara mengambil pelajaran-pelajaran atau i’tibar-i’tibar dari perjalanan kehidupan para nabi, Rasul, dan para sahabat. Yang mana mereka senantiasa mendapatkan bimbingan dari allah bagaimana cara berpikir, berprilaku, berperasan, dan menanggulangi berbagai problem kehidupan, serta bagaimana mereka membangun ketaatan, dan ketaqwaan kepada Allah, mengembangkan eksistensi diridan menemukan jati diri, serta bagaimana cara mereka melepaskan diri dari hal-hal yang dapat menghancurkan mental spiritual dan moralnya.
Adapun yan dimaksud dengan al-Mau’izhoh al-Hasnah adalah pelajaran yang baik dalam pandangan Allah dan RasuL-Nya. Yang mana pelajaran itu dapat membantu klien untuk menyelesaikan atau menanggulangi problem yang sedaang dihadapinya.[6]
Dalam peggunaan teori ini, konselor haruslah benar-benar telah menguai dengan baik tentang materi-materi yang mengandung pelajaran-pelajaran yang sangat bermanfaat bgi klien, dan yang paling penting aalah dapat mengambil i’tibar dan pelajaran yang baik (teladan) dari kehidupan Rasulullah SAW. Sebagaimana firman Allah:


Artinya: “sesungguhnya sudah ada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi siapa saja yang mengharapkan allah dan hari akhir, dn dia telah banyak mengingat allah”. (QS. 33:21)
Materi Al-Mau’izoh Al-Hasanah, dapat diambill dari sumber-sumber poko ajaran islam, maupun dari pakar (ulama) selama tidak bertenangan dengan norma-norma islam. Adapun sumber-umberyang dimaksud adalah (a). Al-Qur’an, (b). Al-Hadis atau prilaku rosul, (c). Al-Atsar atau prilaku para sahabat nabi, (d). Pendapat atau ijtihad para ulama muslim.
C.     Teori “Mujadah Ahsan”
Yang dimaksud dengan teori Mujadala Ahsan (perdebatan) ialah teori konseling yang terjadidimana seorang klien sedang dalam kebimbangan. Teori ini biasa  digunakan ketika seorang klien ingin mencari suatu kebenaran yang dapat meyakinkan diriny, yang selama ini memiliki problem kesulitan mengambil suatu keputusan dari dua hal atau lebih. Sedangkan ia berasumsi bahwa hal tersebut adalah benar untuk dirinya. Padahal dalam pandangan konselor hal itu dapat membahayakan perkembngan jiwanya, akal pikirannya, emosionalnya serta lingkungannya. Adapun ciri dari teori ini adalah:
a.    Harus adanya kesabaran yang tinggi dari konsel.
b.    Tidak bertujuan untuk menjatuhkan klien, tetapi membimbing
c.    Adanya rasa persaudaraan antara konselor dengan klien serta penuh kasih sayang
d.    Dalam menkonseling harus menggunakan dalil al-Qur’an atau Hadis
e.    Adanya ketauadanan yang sejati. Artinya apa-apa yang konselor lakukan dalam proses konseling benar-benar telah dipahami, serta diaplikasikan. Karena bagi seorang konselor muslim sejati, pastilah memahami larangan al-Qur’an tentang seseorang yang tidak mengamalkan apa yang ia nasehatkan. Dalam hal ini allah berfirman:


Artinya: “wahai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sangat besar kemarahan atau kebencian disisi Allah jika kam mengatakan apa-apa yang tidak kamukerjakan”. (QS. 61:2-3)
Dasar atau teori  Mujadalah dalam al-qur’an dapat juga dirtikan sebagai penyampain nasehat agama melalui dialog, diskusi, pesantren kilat, konseling dan pendalaman ajaran agama.
2.        Berdasarkan Hadis
Diantara hadis yang peneliti jadikan rujukan sebagai pendukung (landasan konseling) adalah:
Hadis yang diriwayatkan oleh imam muslim, menjelskan tentang agama adalah Nasihat.


Artinya: “dari Abu Ruqayyah Tamin bin Aus ad Dariy r.a Rasulullah SAW bersabda, “agama adalah nasihat, “Kami bertanya, “Untuk siapa?” beliau menjawab, “bagi allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum Muslim, serta bagi ummat islam pada umumnya.” (HR. Muslim)[7]
Landasan konseling yangdapat kita ambil dari hadis di atas adalah sebagai berikut:
  1. Setiap kaum Muslim memiliki kewajiban untuk memberikan nasihat, karena ia adalah tiang dan penopang agama. Nasihat , sejati adalah milik allah, kita ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya, mengamalkan hukum-hukum yang terkandung didalamnya untuk dijadikan pedoman dalam beraktifitas, baik itu dalam membimbing dan pelayanan konseling.
  2. Nasehat bgi Rasullah, adalah membenarkan risalahnya, taat kepada perintahnya, serta berpegang teguh pada sunnah dan risalahnya, untuk dijadikan pedomn dalam berktifitas, baik dalam membimbing maupun layanan konseling.
  3. Nasehat bagi setiap individu dan masyarakat muslim adalah dngan memberikan petunjuk dan arahan kepada mereka tentang kemaslahatan agama, serta menyeruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.[8]
Konseling islam memandang betapa pentingnya nasehat dan saling menasihati antar sesama muslim, sehingga terjadi komitmen untuk melaksanakan nasehat. Dengan saling menasehati berarti seorang muslim telah memenuhi janjinya kepada allah, sebagaimana hal ini telah menjadi kebiasaan dikalangan para sahabat, orang-orang mukmin dan shidiqin. Merka disebut juga sebagai konselor sejati :
Adapun yang menjadi ciri khas konsling islam adalah :
  1. Berparadigma kepada wahyu dan ketauladanan para Nabi dan Rasul.
  2. Hukum konselor memberikan konselin kepada klien yang meminta bimbingan adalah wajib dan merupakan suatu keharusan dan merupakan ibadah.
  3. Akibat konselor menyimpang dari wahyu, maka allah menghukumi mereka sebagai pendusta agama.
  4. Konselor sejati dan utama yang dalam proses konseling selalu merujuk pada al-Qur’an dan hadis.
B.        Landasan Umum Konseling Islam
Pendekatan konseling (counseling approach), merupakan dasar bagi suatu praktek layanan konseling. Pendekatan tersebut dirasakan sangat penting, karena secara teoi jika dipahami hal itu akan memudahkan dalam menentukan arah proses kegiatan konseling.[9] Pendekatan konseling biasanya dilatarbelakangi oleh pemiirnpemikiran tertentu seperti, pemikiran/pendekatan filosofis, psikologis, teologis, dan sufistik atau dalam islam dikenal dengan tasawwuf. Begitu juga hal dengan konseling islam. Untuk lebih jelas, peneliti akan menyebutkan sebagai berikut:
1.        Landasan Filosofis
Filosofis secara sederhana bisa diartikan sebagai berfikir berdasarkan filsafat.[10] Walaupn setakat ini, sulit ditemukan kesepakatan para ahli mengenai makna dan hakekat filsafat itu sendiri, namun, paling tidak aktivitas filasafat selalu ditandai dengan upaya berpikir kritis, sungguh-sungguh dan berhati-hati melalui sistem dan cara tersendiri dalam mencari dan memahami berbagai realita dengan sedalam-dalamnya dan menyeluuruh menuju suatu kesimpulan yang baik dan komprihensif.[11] Pendek kata,berpikir filsafat merupakan upaya berpikir sistematis dan radikal tentang segala sesuatu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Semakin komprehensif analisisnya, maka kesimpulan yang diperolehpun akan semakin baik dan jernih, sehingga semakin tinggi pulalah Tingkat kebenaran yang diraih. Termasuk didalamnya berfikir tentang konseling islam dibidang pendidikan.
Secara filosofis, wawasan islam tentang konsealing didasarkan atas pemikiran atau pandangan terphad Al-Qur’an dan Hadits, agama dan tuhan,[12] manusia dan pendidikan,kehidupan dunia dan akhirat, serta gangguan (penyakit) dan obatnya. Dalam ila Al-Qur’an [13] dijelaskan, bahwa manusia iitu adalah makhluk beragama atau berketuhanan, karena roh manusia berasal dari Allah, dan agama merupakan fitrah manusia kepada Allah.
Dalam agama islam, manusia atau individu dididik dan diajar untuk beriman dan bertakwa kaepada Allah SWT, karena iman dan takwa adalah sumber kebaiakan, keamanan, dan kebahagiaan jiwa manusia. Mukmin  dan muttaaqin adalah sosok manusia baliknya katiadaan iman dan takwa dalam kaehidupan merupakan sumber kejahatan, kegelisahan, dan ketidak bahagiaan. Dalam situasi dan kondisi individu seperti ini layanan konseling sangat dibutuhkan.
Allah menjadikan manusian dalam bentuk kejadian yang sebaik-baiknya. Dalam penciptaan itu Allah mempersiapkan manusia untuk mennjadi insanul kamil, oleh karena itu pada kejadian manusia banyak terdapat bukti-bukti dan Ayat-Ayat Allah bagi orang yang berfikir ( jasmani dan rohani ) tentang kaeindahan dan kesempurnaan shuroh ( bentuk ) kejadian. Dan salah satu tujuan dari layanan konseling islam adalah menjadikan manusia sehat baik dari segi rohani maupun jasmani dan menjadikan manusia seutuhnya untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. [14] Allah berfirman:

“ Dan diantara mereka , yaitu oranng islam, ada yang berdo’a: ” Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan dunia dan akhirat serta peliharalah kami darin siksa neraka. “ ( QS al-Baqarah ayat 201 )
Untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan pribadi serta ketinggian dan kemuliaan akhlak manusia maembutuhkan peran pendidikan, dan secara filosofis konsep islam tentang pendidikan dan konseling sejalan dengan pemikirannya  tentang manusia itu sendiri, karena memang yang ingin dibentuk oleh pendidikan itu hannyalah manusia, dan salah satu caranya adalah dengan layanan konseling. Dalalm ajaran islaml manusia itu disebut juga dengan sebagai makhluk multidimensi, [15] dan makhluk multipotensi. [16]I  Sungguhpun mamnusia dikaenal sebagai makhluk multidimensi dan makhluk multipotensi,  akan tetapi hakekat dan makna kehidupanya  yang paling tinggi adalah teerletak pada kehidupan jiwa yang bersifat latif, rohani, akkhlaki, religi, abadi, dan rabbani. Maka-nya jiwa yang sehat dan tentramlah sebagai hakikat hakiki manusia itu sendiri, karena jiwa itulah yang memiliki kesadaran, kebebasan, tanggung jawab, amanah, dan yang berlaku taat ataupun durhaka kepada Allah serta merasakan kebahagiaan atau kesengsaraan.Maka ketika jiwa atau pribadi yang multidimensi dan multipotensi itu mendapatkan pendidikan dan layanan konseling islam dengan baik, ketika itu terciptalah hati yang tentram dan damai, serta terhindar dari masalah-masalah yang ada dalam diri insan al-kamil.
Selanjuutnya pandangan islam tentang gangguan, penyakit, masalah individu dan kesulitan, diletakkan diatas dasar peamikiran bahwa setiap penyakit ada obatnya, ( yait u konseloing dengan konselornya ) didalam kesulitan ada kemudahan. Nabi Muhammad saw, menegaskan bahawa setiap penyakit ada obatnya kecuali “ usia tua “. Dan didalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa, sesudah kaesulitan ada kkaemudahan. Hal in sesuai dengan firman Allah:


“ Bukankah kami telah melapangkan dadamu ( muhammaad ). Dan kamipun telah menurunkan baebanmu darimu. Yang memberatkan punggungmu.Dan kami tingguikan asebutan namamu, bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila aengkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap “ ( QS. 94: 1-8 )
            Dengan kata lain-secara filosofis-melalui konselingnya, yaitu dengan upaya pemberian nasehat, menganjurkannyaorang untuk berbuat baik seperi : berzikir, shalat, puasa, bersedekah, dan pembicaraan yang baikserta lemah lembut, rasanya tidak ada masalah yang tidak dipecahkakn dalam pandangan islam. Karena pada dasarnya manusia itu adalah baik dan suci, kalau didapati ada manusia yang jahat dan kotor pastilah itu ada penyebabnya. Oleah karenanya orang islam tidak boleh putus asa dalam menumbuhkembangkan hubungannya dengan sesame manusia, karena putus asa adalah dosa.
2. Landasan Psikologis
Secara teoritis, antara psikologi, konseling, psikotrapi, dan kesehatan mentalterdapat hubungan yang sangat erat. Keemopat disiplin ilmu ini merupakan pilar bagi kesempurnaan kehidupan mental dn jasmamni manusia, Secara agama, psikologi merupakan suatuau permasalahan  yang hendak dilayani oleh layanan konseling islam. Sedangkan kesehatan mental adalah kondisi kejiwaan manusia yang hendak dituju oleh pelayanan konseling islam. Sedangkan psikotrapi merupakan pengobatan bagi segala gangguan dan penyakit kejiwaan manusia yang dialami manusia. Oleh karenanya, secara psikologis, wawasan professional konseling islam maencakup, psikologi agama, ilmu kesehatan jiwa, dan psikotrapi. Dalam pelaksanaan pendidikan agama islam keempatnya tidak bias dipisahkan.
Secara harfiyah, psikologi dapat diartikkan ilmu tentang sikap dan tingkah laku manusia. Dengan mempelajari psikologi orang akan mengenal dan menngetahui ayat-ayat Tuhan yangn terdapat dalam kehidupan jiwanya dan orang lain untuk menngenal sosok kepribadian dan kondisi kesehatan mental manusia. Di samping itu, dengan psikologi bias dikembangkan dimaensi dan potensi  kehidupan manusia seluas dan dan seoptimal mungkin, demi untuk kesejahteraan dan kebahagiaan jiawa manusia. Orang islam diperintahkan oleh Allah untuk membaca ayat-ayat-Nya yang ada pada jiwa manusia itu sendiri atau mempelajari psikologi dirinya dan orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

“ kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami disegenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa AL-Qur’an itu adalah benar . “ ( QS. Fushshilat ayat 53 )   
Apabila orang punya pengetahuan yang baik denngan jiwanya, maka pengetahuan itu akan membawanya kepada pengetahuan tentang Allah SWT. Jadi akhir dari pengetahuan kejiwaan itu dalam islam adalah pengetuahuan dan pendekatan diri secara baik kepada Allah. Begitu juga halnya, orang yang paham psikologi nmaka akan mudah baginya untuk maelakukan kegiatan atau usaha pelayanan yang bernuana konseling terhadap orang yang mengalami masalah atau kesulitan pada diri klien.
Dalam hal ini, konseling islam tidak lain adalah suatu hubungan antara seorang klien yang memmpunyai masalah pribadi atau juga kejiwaan dengan seorang konselor islam, pengentasan masalah, pencegahan timbulnya masalah dan pengembangan potensi kerohanian manusia merupakan focus yang amat penting dari pelayanan konseling islam itu sendiri. Pendek kata, dengan psikologi, maka akan dapat dilukiskan dan dikembangkan kepribadian seseorang, serta diketahui kondisi kesehatan jiwa sesuai dengan ajaran agama yang   dianutnya. Karena memang demikianlah yang dianut oleh perkembangan psikologi agama islam.
Oleh karena besarnya arti dan fungsi psikologi bagi layanan konseling, maka bagi orang-orang yang terlibat didalamnya (  konselor/ klien ) harus memanfaatkan jasa ilmu ini dalam pengembangan kehidupan, baik itu pendidikan, penyiaran agama, dan juga dalam kegiatan membantu penyelesaian masalah-masalah pribadi. Untuk keperluan konseling, landasan psikologis yang perlu dikuasai oleh konselor adalah: pembawaan dasar dan lingkungan, perkembangan induvidu, belajar, dan kepribadian.
a.      Pembawaan Dasar dan Lingkungan
Setiap individu dilahirkan kedunia dengan membawa kondisi mental fisik tertentu. Apa yang dibawa sejak lahir itu sering disebut dengan pembawaan. Dalam, arti luas, pembawaan meliputi berbagai hal, seperti warna kulit, bentuk dan warna rambut, golongan darah, kecendrunganciri-ciri kepribadian tertentu, bahkan kerentanan terhadap penyakit tertaentu seringkali dikaitkan dengan pembawaan. Semua pembawaan tersebut diturunkan melalui pembawaan sifat yang terbentuk setelah sel telur dari ibu bersatu dengan sel sperma dari ayah pada saat konsepsi.
Pembawaan,[17]  dan lingkungan,[18] masing-masing individu tidaklah sama. Kondisi yang mennjadi pembawaan itu selanjutnya akan terus tumbuh dan berkembang. Namun pertumbuhan dan perkembangan itu tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Untuk dapat tumbuh dan berkembang  diperlukan sarana dan prasarana yang semuanya berada dalam lingkungan individu nyang bersangkutan.
Keadaan pembawaan dan linbgkungan seseorang dapat diketahui melalui penerapan pelayanaan konseling, baik tes maupun non tes yang dipergunakan oleh Konselor ntuk menyikapi kondisi pembawaan dan lingkungan sasaran layanan secara dinamis. Hal ini dimaksudkan bahwa apa-apa yang terdapat dalam pembawaan sekecil apapun merupakan modal atau aset yang harus ditimbuhkembangkan secara optimal, dan berdaya guna.
Penumbuh-kembangkan atau pengolahan pembawaan itu semuanya dimulai melalui lingkungan. Oleh karena itu lingkungan perlu ditata, dan inilah yang menjadi salah satu tugas pokok konselor untuk memahami sebesar apa modal yang dimiliki oleh klien dan mengupadayakan seoptimal mungkin.
b.      Perkembangan Individu
sejak masa dlam rahim ibu, bakal manusia yang ditakdirkan akan berkembang menurut prosedurnya,19 yang telah diatur oleh Allah SWT. Setelah dilahirkan didunia, tahapan-tahapan perkembangannya adalah sebagai berikut:
1.     Subtahap pertama berlangsung dari kelahiran sampai kira-kira enam minggu dan ini merupakan tahap perkembangan refleks.
2.    Subtahap kedua terjadi enam minggu sampai empat bulan dan merupakan tahap perkembangan kebiasaan.
3.    Subtahap ketiga terjadi dari enam sampai sembilan bulan dan merupakan perkembangan kordinasi antara penglihatan dan kemampuan untuk menggenggam atau meraih sesuatu.
4.    Subtahap keempat terjadi dari umur sembilan sampai duabelas bulan, dan merupakan perkembangan logika dan kordinasi antara alat dan tujuan.
5.    Subtahap kelima terjadi pada usia 12-18 bulan, dan ini merupakan perkembangan pencarian alat-alat baru untuk mencapai tujuan.
6.    Sutahap keenam merupakan perkembangan awal dari pemahaman atau kreativitas yang sesungguhnya.20
Dengan demikian, jelas bahwa perkembangan individu itu tidaklah sekali jadi, melainkan betahap dan berkeseimbangan. Seperti perkembangan secara kecerdasan (kognitif), bahasa, moral, fisik, dan kemampuan motorik.
Dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanannya, konselor menghadapi individu yang sedang berkembang. Oleh karena itu, selain konselor harus memahami secara terpadu kondisi sebagai aspek perkembangan individu pada saat layanan konseling diberikan., juga harus dapat melihat arah perkembangan individu kedelapannya. Lebih jauh, dinamika perkembangan individu atau klien yang telah berlangsung sebelumnya akan menjadi dasar diagnisis, serta pronosis, dan pemberian bantuan nagi individu yang bersangkutan.
c.      Belajar
Dari pendapat pasa psikolog,21 tersimpulkan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkahlaku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang membentuk proses kognitif.
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah manusia terbebes dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah dari bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah manusia secara bebas dapat mengekpoitasi, memilih, dan menetapkan keputusan penting untuk berkembang dalam kehidupannya. Karena memang manusia belajar untuk hidup, tanpa belajar manusia tidak akan mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dan dengan belajarlah manusia mampu berbudaya dan mengembangkan kemanusiaannya.
Diantara tujuan belajar adalah penguasaan dan pencapaian sesuatu yang baru, dan hal itu merupakan tanda-tanda perkembangan bagi orang yang belajar. Namun yang terpenting itu semuanya adalah (a). bahwa terjadinya perubahan atau tercapainya sesuatu yang baru pada diri seseorang itu tidak berlangsung dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan. (b). Bahwasnya proses belajar tidak terjadi didalam kekosongan, melainkan dalam suatu kondisi tertentu. (c). hasil belajar yang diharapkan adalah sesuatu yang baru, baik dalam kawasan kognitif, efektif dan psikomotor. (d). kegiatan belajar seringkali memerlukan sejumlah sarana, baik berupa media, maupun suasana hati dan hubungan sosio-emosional. (e). hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar hendaknya dapat diketahui dan diukur, baik individu yang belajar maupun oleh orang lain. (f). Upaya belajar merupakan sesuatu yang berkeseibungan, karena kehidapan manusia normal sepanjang hayatnya dipenuhi oleh upaya belajar, yang didukung oleh nuansa konseling.
Ada beberapa alasan mengenai pentingnya layana konseling dilembaga pendidikan atau sekolah untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar dengan baik, yaitu:
Pertama, perbsdaan antara individu atau siswa.  Setiap siswa mempunyai perbedaan antara satu dengan yang lainnya, di samping persamaannya. Perbedaan tersebut menyangkut: kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, persepsi, sikap, kemampuan dan minat.
Kedua, siswa menghadapi masalah-masalah dalam pendidikan. Masalah-masalah tersebut bisa masalah pribadi, hubungan dengan orang lain (guru, teman), masalah kesulitan belajar. Dalam penyelesaiannya, seringkali tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan bantuan orang lain untuk berdialog. Orang lain yang dimaksud disini adalah orang yang mau mengerti dengan diri siswa dan mengetahui cara penyelesaiaan. Dalam setting sekolah / lembaga pendidikan, konselor adalah orang yang dituntut untuk dapat memberikan bantuan.
Ketiga, masalah belajar. Siswa datang ke sekolah dengan harapan agar bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Akan tetapi tidaklah selamanya demikian. Ada berbagai masalahyang mereka hadapi, bersumber dari stres karena tugas-tugas, ketidakmampuan mengejarkan tugas, keingin untuk bekerja sebaik-baiknya tetapi tidak mampu, persaingan dengan teman, kemampuan dasar intelektual yang kurang, motivasi belajar yang lemah. Masalah-masalah tersebut tidak selalu bisa diselesaikan dalam setting belajar mengajar di kelas, melainkan memerlukan pelayanan secara khusus oleh konselor melalui konsultasi pribadi.22
Beberapa hal yang peneliti uraian diatas, perlu dikenal oleh konselor dan dipahami berbagai kemungkinan penerapannya bagi pengembangan kegiatan belajar klien. Dan untuk memadukannya pelayanan konseling-lah jawabannya.
d.      Kepribadian
bicara masalah kepribadian, sering dikaitkan dengan ciri seseorang. Makanya dalam khazanah psikologi rumusan yang satu ini (kepribadian) masih agak sulit untuk diketahui makna yang sebenarnya. Namun demikian para psikolog.23 pada umumnya mendefinisikan kepribadian ini terfokus pada faktor-faktor fisik dan genetika, berfikir dan pengamatan, serta dinamika motivasi dan perasaan. Namun sejumlah hasil study memperlihatkan adanya hubungan antara bentuk tubuh dengan ciri-ciri kepribadiaan, dan hasil study tentang anak kembar menunjukkan adanya pengaruh faktor-faktor genetika terhadap aspek-aspek kepribadian.
Labih lanjut, kajian faktor-faktor biologis memperlihatkan pengaruh yang cukup besar atas kepribadian individu. Kenyataan eksprimen  menunjukkan bahwa meskipun kepribadian seseorang individu adalah unik (yang satu berbeda dengan yang lainnya), namun persamaannya juga cukup besar. Persamaan itu antara lain terhadap pada bagaimana ciri-ciri kepribadian itu diperoleh. Unsur pengaruh sosial mengingatkan bahwa sebagai makhluk sosial, kepribadian individu ditentukan oleh lingkungan sosial, pendekatan psikometrik menegaskan bahwa kepribadian meliputi suatu struktur dan sejumlah ciri kepribadian yang dapat dipilah-pilah serta dapat diukur.
Kaitannya dengan hal di atas, maka konselor perlu memahami kompleksitas kepribadian klien disamping mampu memilah-milah ciri-ciri tertentu dapat diukur. Dalam kaitannya ini, konselor biasanya cendrung terkait pada pemahaman terhadap ciri-ciri kepribadian yang spesifik, namun yang terpenting dari semua adalah mengoptimalkan perkembangan dan pendayagunaan ciri-ciri kepribadian klien. Karena memang konseling pada awalnya muncul dan tumbuh sebagai gerakan yang dirancang untuk membantu individu yang bermasalah.

3.      Landasan Teori
Secara sederhana, teologi bisa diartikan dengan pembahasan terhadap soal-soal yang berkaitan dengan ke-Tuhanan dan hubungannya dengan alam semesta, terutama sekali dengan manusia.24 Setiap orang yang ingin menyelami seluk-beluk agamanya maka ia harus mempelajari teologi yang terdapat dalam agama tersebut. Seseorang yang telah mempelajarinya secara mendalam diharapkan mendapatkan suatu keyakinan dan pedoman yang kokoh dalam beragama. Dan orang yang demikian itu tidak mudah dipercaya oleh perubahan zaman memang selalu berubah, karena setiap gerak, tindakan dan perbuatannya selalu didasari pada keyakinan yang dijadikannnya falsafah hidup.
Sebagai makhluk yang terdiri dar jasmani dan ruhani, pastilah manusia itu membutuhkan kehidupan yang bermakna serta sehat mental dan fisiknya. Maka hidup yang paling tinggi bagi orang yang paham tentang teologi adalah pengabdian dalam hubungannya dengan sang pencipta. Manusia harus mempunyai kesadaran yang kuat mengenai hubungan dengan Tuhan, demi untuk mendapatkan cara terbaik dalam menyelesaikan/memecahkan kesukaran, kekuatan, konflik dan frustasi dalam kehidupan sehari-hari, dan inilah sebenarnya jiwa yang tenang.25 Firman Allah:


“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rido dan ridoi-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-Ku, dan masulah kedalam surga-Ku. (QS.89 ayat 27-30)
Kesadaran dan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa akan merangsang rasa rendah hati, makin mengenali dirinya sendiri dan dapat memberikan rasa aman yang mendalam, dan inilah sebenarnya yang diinginkan dan dituju oleh pelayanan konsling Islam. 26 semua itu merupakan jaminan yang paling aman untuk mendapatkan mental dan ketenangan jiwa. Karena memang, keimanan yang kokoh akan dapat mencegah rasa ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, rendah hati, putus asa, yang akibat semuanya itu akan dapat membahayakan kesehatan menytal dan integritas kepribadian. Disamping itu pengakuan secara intelektual tentang kebergantungan manusia kepada Tuhan-Nya, haruslah diikuti dengan ketaatan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.dan itulah sebenarnya hakekat dari seseorang yng berteologi.
4.      Landasan Tasawwufi
Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, dalam bukunya Abad as-Suluk wa at-Tawashul ila Manazil al-Muluk. (abad-abad perjalanan Spritual)27 menjelaskan, yang dimaksud dengan tasawuf adalah, latihan (riyadhah) dan perjuangan (mujadalah) untuk mendapatkan rasa manisnya dan lezatnya iman sehingga orangmeras rindu padanya (tasawwuf). Dalam syariat kita yang toleran, tasawwuf merupakan satu pengertian yang pasti, yang diambil dari pokok akidah dan lentera kenabian. Yakni mengluarkan dunia dari hati, namun tetap menggenggamnya.
Dalam kaitannya dengan konseling Islam, landasan tasawwuf merupakan landasan pengkajian yang didasarkan pada prosedur intuitif (al-hadsiyah) ilham dan rasa cinta (al-Zawqiyah). Prosedur yang dimaksudkan adalah melakukan dengan cara memfokuskan struktur kalbu melalui proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs). Dengan cara ini dapat membuka tabir atau penghalang antara ilmu Allah dengan jiwa manusia, sehingga mereka memperoleh ketersingkapan dan mampu mengungkap hakikat jiwa yang sesungguhnya.28
Menurut William James, sebagai yang dikutib oleh Abdul Mujib, bahwasanya empat karakteristik yang dapat dipahami dalam pendekatan tasawwufi  atau sufistik, yaitu : (a) mereka lebih mengutamakan aspek-aspek perasaan (al-Syu’ur), sehingga dideskripsikan secara ilmiah. (2) dalam kondisi neurotik [19] (al-Ushoby) atau emosi yang terganggu, justru para sufi menyakini bahwa dirinya telah menggapai alam hakikat, sehingga mereka memperoleh ilham. (3) bahwasanya kondisi puncak tersebut diperoleh bersifat sementara dan mudah sirna, meskipun hal itu menimbulkan kesan dan ingatan yang mendalam dan tak terlupakan, dan (4) apa yang diperoleh merupakan anugerah atau pengalaman yang menguntungkan diri pada kekatan supranatural yang menguasainya.
Dari uraian diatas timbul satu pertanyaan, apakah pendekatan tasawwufi dalam kontek konseling islam tidak dipandang bid’ah (mengada-ada dalam Islam yang sebelumnya belum diajarkan oleh Nabi) ?, apalagi terminologi tasawwuf atau sufi tidak ditemukan di dalam Al-Qur'an maupun Al-Sunnah, sepintas pertanyaan tersebut ada benarnya, karena memang apa yang dilakukan oleh para sufi secara literal tidak didapati di dalam nash, namun perlu diingat, bahwa Nabi Muhammad SAW, merupakan guru spiritual yang agung yang tingkah lakunya memiliki ke dalam spritual. Walaupun pengalaman spritualnya tidak diucapkan dalam kata-kata (hadis) tetapi sangat jelas bahwa pengalaman tersebut dilakukan dan dirasakan.
Ketika terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Nabi telah mengalami pengalaman puncak dalam prilaku spritual, sebab beliau telah mencapai pada tempat yang menjadi pusat rahasia-rahasia alam yaitu (Sidratul Muntaha), di lain pihak, Nabi pernah menyendiri dan menyepi (khalwat) disuatu tempat yaitu gua Hira’ sehingga beliau mendapat wahyu dari Allah SWT, menurut analisa peneliti, hal inilah yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW, merupakan guru sufi.

5.      Landasan Sosial Budaya
Pola pikir dan kehidupan yang terlalu berorientasi kepada kemajuan dalam bidang material (pemenuhan kebutuhan biologis), telah menelantarkan supra empiris manusia, sehingga terjadi kemiskinan rohaniyah dalam diri manusia dan kolbu yang gersang. Kondisi seperti ini ternyata sangat kondusif  bagi berkembanganya masalah-masalah pribadi dan sosial yang terekspresikan dalam suasana psikologis yang kurang nyaman, [20] seperti perasaan cemas, stres dan perasaan terasing, serta terjadinya penyimpangan moral atau sistem nilai.
Selain hal diatas, yaitu organisasi sosial budaya, apakah itu lembaga keagamaan, kemasyarakatan, pendidikan, keluarga dan politik, secara menyeluruh memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap sikap, kesempatan dan pola hidup individu maupun sosial. Keragaman sosial budaya, apakah itu tradisi, kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma, bahasa, kenyakinan dan cara berfikir yang telah terpola dalam suatu masyarakat secara turun temurun, hal tersebut pastilah akan menimbulkan hubungan antar sosial-budaya akan berbeda.[21]
Menyingkapi hal tersebut diatas, maka konseling yang melibatkan konselor dan klien dituntut untuk memiliki kepekaan sosial budaya dan melepaskan diri dari bias-biasnya, yaitu dengan cara mengapresiasi diversitas (perbedaan) budaya serta menguasai keterampilan yang responsif secara kultural.
Karakteristik sosial budaya yang beraneka ragama tersebut, tidak dapat diabaikan dalam perencanaan dan pelayanan konseling, yang salah satu tujuannya adalah mengembangkan,meningkatkan mutu kehidupan serta martabat manusia haruslah berakar pada sosial-budaya bangsa itu sendiri, ini artinya penyelenggaraan layanan konseling haruslah dilandasi dan mempertimbangkan keanekaragaman sosial-budaya hidup dalam masyarakat.
Untuk para konselor, dari berbagai macam latar belakang sosial-budaya yang terdapat pada diri klien, hal tersebut tidak dapat disamaratakan dalam penanganannya, walaupun munkin dalam kelompok tersebut sedang menuju pada suatu budaya, kesatuan, namun akar budaya asli yang masih eksis dan berpengaruh besar hendaknya patut dihargai, dikenal untuk dijadikan pertimbangan utama dalam layanan konseling.
6.      Landasan Pedagogis
Dalam kaitannya dengan pendidikan, secara eksplisit disebutkan bahwa upaya dan layanan konseling merupakan salah satu bentuk pendidikan, oleh karena itu,  segenap pembahasan tentang konseling tidak boleh terlepas dari pengertian pendidikan yang telah dirumuskan secara praktis, dengan demikian dalam pelayanan konseling harus terkandung komponen-komponen pendidikan, [22] maka tujuan dari layanan konseling juga tidak boleh menyimpang dari tujuan pendidikan nasional, [23] yang tertera dalam undang-undang No. 22 tahun 2003. demikian juga tujuan dari layanan konseling, pada dasarnya adalah agar klien lebih mantap dalam keberagamannya, berbudi luhur, berpengetahuan dan berketerampilan yang memadai, sesuai dengan kebutuhan  kehidupan dan pengembangan dirinya, sehat jasmani dan rohaninya, mendiri, bertanggungjawab dan memiliki jiwa sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.
Memang, landasan psikologis mengemukakan bahwa antara pendidikan dan layanan konseling dapat dibedakan, akan tetapi tidak dapat dipisahkan, dan secara mendasar layanan konseling merupakan salah satu bentuk dari proses pendidikan, yang menekankan pada kegiatan belajar dan sifat dasar normatif serta tujuannya adalah memperkuat dan menunjang tujuan-tujuan pendidikan secara wajar.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Qur’an al-Karim
Al-Hadis         : Al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Tarmidzi
Al-Hadis         : Al-Imam Ahmad bin Hambal-Musnad
Al-Hadis         : Al-Bukhari-Matan Masykul
Al-Hadis         : Mukhtashar Shahih Muslim
Al-Hadis         : Shahh Muslim
Al-Hadis         : Sunan Abi Dawud
Al-Hadis         : Taisir Shahih al-Bukhari
An_Nawawi-Imam, Syarah Riyadhsush Shalihin, Jakarta : Gema Insani, 2010.
Ahmad Warson Munawwir, Kamus ‘Arabi-Indonesia, Surabaya : Pustaka progressif-1984.
Az-Zahrani-Musfir bin Said, Konseling Terapi, Jakarta : Gema Insani, 2005.
Adz-Dzaky-Bakran Hamdan. Konseling dan Psikotrapi Islam. Yogyakarta, 2004.
Abdul-Mujib, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002
A. Juantika Nurihsan, Landasan Bimbingan Konseling. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009
Arifin. H.M. Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner.
Andi Mappiare A.T. Kamus Istilah Konseling. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006
----------------Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2008
Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta : Pustaka Amani, 2003
Anas Ahmad Karzon, Tazkiyatun Nafs, Jakarta : Akbarmedia, 2010
Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2008
Atabik Ali, Qomus al-‘Ashri-Arobi Indunisi, Yogyakarta : Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1996
Abdullah Munif, Rutinitas Muslim Pilihan, Lamongan : Kombi Prima Grafika, Tt.
Aliah Kania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006
Amin. Samsul Munir, Bimbingan dan Konseling Islam. Jakarta : Amzah, 2010.
Al-Munajjid Muhammad Sholeh. Cara Cerdas Nabi Mengoreksi Kesalahan Orang Lain, Jakarta : Zaman, 2010
Ba’al Baki, Al-Maurid, Al-Hadis Modern English-Arabic Dictionary, Beirut. Dar El-Ilm Lil-Malayen, 1998.
Corey Geral, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Editama, 2009
Fathoni : Makmur Haris, Pendidikan Islam dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern. Jogjakarta : Ircisod, 2010
Fuhaim Mustafa, Kurikulum Pendidikan Anak Muslim. Surabaya : Pustaka Elba, 2010
Hassan Shaidly. An English-Indonesia Dictionary. Jakarta : Gramedia, 2003
John mCLeod, Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus. Jakarta : Kencana Prenada Group. 2006
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Adiya Media, 2005
Muhammad Ustman Najati. Psikologi Qur’an dari Jiwa Hingga Ilmu Laduni. Bandung : Marja, 2010
Muhammad Suwaaid, Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo : Arafah Group, 2004.
Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta : Ciputat Prss, 2002
Prayitno, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta : Jakarta, 2004
-----------, Dasar Teori dan Praktsis Pendidikan. Jakarta : Grasindo, 2009
Sofyan S. Wilis. Konseling Individu Teori dan Praktek, Bandung Al-Fabeta, 2004
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007
W.S Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.2004.





[1] Hamdan Bakran Adz Zaky. Konsling dan Psikotrapi Islam. (Jogjakarta : Al-Manar, 2004), hlm. 190
[2] Ibid, hlm. 191.
[3] Ahmad Warson Munawi, Al-Munawwir, Kamus Arab Indonesia, (Surabaya. Pustaka Progresif, 1997), hlm.
[4] Syamil al-Qur’an, hlm. 281
[5] Hamdan Baakran Adz-Zaky, Op-Cit, hLm. 198
[6] Ibid, hlm.202
[7] Imam an-Nawawi, Terjemahan Syarah Shalihin ( Jakarta : Gema Insani, 2001) hlm. 337. Jilid 1.
[8] Imam an-Nawawi, Syarah Riyadhush Shalihin. (Jakarta. Insani. 2010), hlm. 337-338
[9] Sofysn S. Willis, Konseling Individu dan Praktek. [Bandung, Alfabeta, 2009], hlm 55
[10] Daryanto SS. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, [Surabaya, Apollo, 1997], hlm. 203
[11] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, [Yogyakarta, Aditya medi, 2005], hlm 1
[12] Dalam pandangan islam, kebutuhan manusia kepada agama dan tuhan adalah merupakan tabiat dan fitrah, karena agama adalah dimensi dan potensi penting bagi kehidupan manusia sebagai khalifah Allah dibumi atau sebagai insan kamil. Yahya Jaya, Ibid, hlm. 86.
[13] “ Maka apabila aku telah menyempurnakan ( kejadian) nya dan aku telah meniupkan ruh ( ciptaan) ku kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud . QS. 15. 29. “ . Departemaen Agama RI, AL-Qur’an teerjemah Per-kata, syaamil Al-Qur’an. 2007.
[14] Samsul Munir Amin, Bimbingan dan konselinng islam, [ Jakarta, Amzah, 2010 ], hlm. 40.
[15] Multidimensi adalah, makhluk yang terdiri dari berbagai aspek kehidupan seperti, kehidupan jasmani, rohani, agama, akhlak, social, akal, dan kehidupan, astetika. Yahya Jaya, Op-Cit, hlm. 88.
[16] Multipotensi adalah, manuasia yang memiliki banyak potensi dalam kehidupannya untuk menjadi insane al- Kamil, yang kualitas sifatn dan akhlaknnya dekat dengan asmaul husna.
[17] Dalam psikologi perkembangan, ada pembawaan yang tinggi, sedang, kurang, bahkan kurang sekali. Terkadang dijumpai  individu dengan intelegensi yang amat tinggi  ( jenius). Bahkan yang amat istimewa, atau pembawaan yang luar biasa bagusnya, dan itu semua adalah anugrah dari Allah. Sebaliknya, teerkadang kita jumpai pula individu dengan intelegensinya rendah, pembawaan yang seperti itu juga merupakan karunia dari Allah yang tidak boleh disia-siakan, tapi harus mendapatkan yang memadai tentunya, yang sesuai dengan kemuliaan mamnnusia itu sendiri menurut kodratnya.
               
[18] Dalam psikologi perkembangan juga terdapat li9ngkungan individu yang sangat baik, dan kurang baik yang dapat mempengaruhi dan menunjang pengembangan bakat yang tinnggi, dan bahkan sebaliknya.
[19] Para psikolog beranggapan bahwa neurotik merupakan prilaku yang diperankan oleh seorang sufi ketika mereka telah mencapai puncak spritualnya, misalnya dalam kondisi mengucapkan ucapan-ucapan yang tidak disadari ketika sedang melakuka meditasi, seolah-olah adanya teriakan ilahi sehingga ia terpesona, dalam paradigma psikologi Barat kontemporer, kondisi seperti ini dipandang sebagai kegilaan, namun menurut paradigma psikologi sufistik, kondisi seperti ini merupakan suatu keadaan yang berasal dari Tuhan, Abdul Mujib, Ibid, hlm. 28
[20] A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling,  (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2009) hlm. 117
[21] Dedi Supriadi, Membangun Bangsa Melalui Pendidikan,  (Bandung, Rosda Karya, 2004) hlm. 229
[22] Komponen-komponen Pendidikan yang peneliti maksud adalah, (1) peserta didik, (2) pendidik, (3). Tujuan Pendidikan, (4). Proses pembelajaran. Lihat Prayitno, dalam Dasar teori dan Praksisi Pendidikan, (Jakarta., Grasindo, 2009) hlm. 43
[23] Tujuan yang dimaksud adalah, Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar  menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa keapda Tuhan yang Maha Esa, berakhalk mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, Lihat Samsul Munir Amin,  Op cit, hlm. 323

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar